Provinsi Bengkulu merupakan wilayah yang secara geografis sangat rentan terhadap fenomena alam ekstrem, terutama curah hujan tinggi yang sering kali mengakibatkan banjir bandang di berbagai kabupaten dan kota. Namun, bagi para ahli kesehatan lingkungan, ancaman banjir bukan hanya berhenti saat air surut. Terdapat Bencana yang Mengintai di balik lumpur dan sisa-sisa genangan yang sering kali terabaikan oleh masyarakat yang sibuk membersihkan rumah. Dalam berbagai kesempatan, pihak HAKLI Bengkulu terus menyuarakan peringatan mengenai tingginya risiko kesehatan lingkungan yang muncul akibat rusaknya sistem sanitasi dan tercemarnya sumber air bersih setelah bencana hidrometeorologi terjadi.

Kondisi pasca banjir menciptakan lingkungan yang sangat ideal bagi perkembangbiakan berbagai kuman penyakit. Bakteri leptospira yang berasal dari urine tikus, misalnya, menjadi salah satu ancaman serius yang disoroti oleh HAKLI Bengkulu. Ketika air banjir meluap, kuman-kuman tersebut tersebar ke area pemukiman dan dapat masuk ke tubuh manusia melalui luka terbuka atau makanan yang terkontaminasi. Inilah wujud nyata dari Bencana yang Mengintai yang dampaknya bisa jauh lebih fatal daripada luapan air itu sendiri. Masyarakat sering kali kurang waspada terhadap kebersihan diri saat melakukan proses pemulihan pasca banjir, yang meningkatkan risiko terjadinya penularan penyakit secara masif.

Selain ancaman penyakit leptospirosis, masalah diare dan penyakit kulit juga menjadi isu utama yang dihadapi warga Bengkulu. Banjir menyebabkan tangki septik meluap dan mencemari sumur-sumur warga dengan tinja. Melalui pengawasan yang dilakukan oleh HAKLI Bengkulu, ditemukan bahwa kualitas air tanah di daerah terdampak sering kali tidak layak konsumsi selama berminggu-minggu setelah kejadian. Risiko Penyakit Pasca Banjir ini menuntut respons cepat dari pemerintah untuk menyediakan sarana air bersih portabel dan melakukan disinfeksi lingkungan secara menyeluruh. Tanpa tindakan yang tepat, angka kesakitan masyarakat akan melonjak tajam setelah masa tanggap darurat berakhir.

Para tenaga ahli kesehatan lingkungan juga memberikan edukasi mengenai cara mengelola makanan dan air secara aman di tengah keterbatasan fasilitas pasca bencana. Mereka menekankan pentingnya merebus air hingga benar-benar mendidih dan menjaga kebersihan peralatan makan. Fenomena Bencana yang Mengintai ini juga mencakup aspek kesehatan mental, di mana kecemasan akan penyakit dapat memperburuk kondisi fisik pengungsi. Upaya mitigasi dari HAKLI Bengkulu mencakup distribusi paket sanitasi darurat dan pendampingan teknis untuk perbaikan fasilitas sanitasi yang rusak. Pencegahan adalah kunci untuk meminimalkan beban sistem kesehatan yang sudah tertekan akibat bencana alam.

Kategori: Berita