Permasalahan sampah telah menjadi tantangan lingkungan dan sosial yang mendesak bagi kota-kota besar di Indonesia. Alih-alih hanya menimbun sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA), pendekatan baru yang lebih berkelanjutan kini menjadi fokus, yaitu konsep Ekonomi Sirkular. Mengedukasi siswa mengenai Ekonomi Sirkular (atau circular economy) dan eco-preneurship adalah langkah strategis untuk mengubah mentalitas dari model ‘ambil-buat-buang’ (take-make-dispose) menjadi model yang mempertahankan nilai sumber daya selama mungkin. Program edukasi ini bertujuan melahirkan wirausahawan muda yang tidak hanya mencari keuntungan, tetapi juga memberikan solusi bagi masalah lingkungan.


Konsep Ekonomi Sirkular pada dasarnya adalah sistem industri restoratif atau regeneratif berdasarkan niat dan desain. Sistem ini berupaya meminimalkan limbah dengan menjaga produk, komponen, dan material pada tingkat utilitas dan nilai tertinggi setiap saat. Di lingkungan sekolah, hal ini dapat diwujudkan melalui tiga pilar utama: mengurangi (reduce), menggunakan kembali (reuse), dan mendaur ulang (recycle). Edukasi eco-preneurship lantas masuk sebagai implementasi praktis dari pilar-pilar tersebut. Siswa diajarkan bagaimana sampah, seperti botol plastik, kertas bekas, atau kain perca, dapat diolah kembali menjadi produk bernilai jual.

Sebagai contoh nyata, pada hari Rabu, 21 Agustus 2024, di SMK Negeri 10 Malang, telah diluncurkan program percontohan “Bank Sampah Sekolah”. Di bawah pengawasan guru pembimbing yang ditunjuk, siswa mengumpulkan dan memilah sampah. Sampah plastik kemudian diolah menjadi kerajinan tangan atau diubah menjadi bijih plastik oleh tim wirausaha siswa. Hasil penjualan produk ini dicatat secara transparan. Pada akhir tahun ajaran, tepatnya 27 Juni 2025, keuntungan yang diperoleh berhasil mencapai Rp 4.500.000, yang sebagian besar dialokasikan untuk membiayai kegiatan ekstrakurikuler sekolah.

Penerapan Ekonomi Sirkular tidak hanya berhenti pada daur ulang. Dalam konteks yang lebih luas, siswa juga diperkenalkan pada rantai pasok yang bertanggung jawab. Mereka belajar bahwa membeli produk dari sumber lokal atau produk yang dirancang untuk daya tahan (durability) juga merupakan bagian penting dari eco-preneurship dan mendukung prinsip Ekonomi Sirkular. Edukasi ini juga melibatkan pihak eksternal, misalnya, petugas dari Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Bogor yang secara berkala, setiap Jumat minggu kedua, memberikan workshop kepada siswa tentang teknik pengomposan dan pengelolaan limbah organik.

Melalui program-program ini, siswa tidak hanya mendapatkan keterampilan teknis dalam mengolah sampah, tetapi juga mengembangkan mindset inovatif dan berkelanjutan. Mereka belajar tentang nilai ekonomi yang tersembunyi dalam limbah dan bagaimana menjadi pengusaha yang bertanggung jawab, yang mengambil peran aktif dalam menjaga kesehatan planet sambil menciptakan peluang ekonomi. Inilah jembatan yang menghubungkan kesadaran lingkungan dengan keterampilan bisnis di masa depan.