Memasuki tahun 2026, tantangan kesehatan masyarakat di Provinsi Bengkulu semakin kompleks dengan adanya fenomena double burden atau beban ganda penyakit menular. Meskipun perhatian dunia sempat terpusat pada pemulihan pasca-pandemi, ancaman klasik seperti Demam Berdarah Dengue (DBD) kembali menunjukkan tren peningkatan yang signifikan. Pertarungan antara DBD vs COVID-19 dalam konteks kesehatan lingkungan memerlukan pendekatan yang sangat hati-hati, di mana masyarakat tidak boleh abai terhadap protokol kebersihan udara maupun kebersihan sanitasi air yang menjadi sarang nyamuk.
Provinsi Bengkulu, dengan karakteristik iklim tropis dan curah hujan yang cukup tinggi, secara alami memiliki risiko endemisitas penyakit tular vektor yang besar. Di sisi lain, sisa-sisa kewaspadaan terhadap virus pernapasan masih menuntut standar sirkulasi udara yang baik. Para tenaga sanitarian Bengkulu kini mengemban tanggung jawab ganda untuk memastikan bahwa upaya pencegahan satu penyakit tidak justru mengabaikan risiko penyakit lainnya. Misalnya, penggunaan penampung air untuk cuci tangan di tempat umum sebagai protokol pencegahan virus harus dipantau ketat agar tidak berubah menjadi tempat perkembangbiakan jentik nyamuk Aedes aegypti.
Strategi utama yang diterapkan adalah integrasi surveilans lingkungan. HAKLI di wilayah Bengkulu mendorong setiap fasilitas umum untuk melakukan audit sanitasi mandiri yang mencakup dua aspek utama tersebut. Pertama, adalah memastikan ventilasi udara tetap optimal untuk meminimalisir risiko penularan virus melalui udara. Kedua, adalah penguatan gerakan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dengan metode 3M Plus yang dimodifikasi. Strategi sanitarian di lapangan tidak lagi hanya mengandalkan fogging atau pengasapan kimiawi yang bersifat sementara, tetapi lebih menekankan pada modifikasi lingkungan agar nyamuk tidak memiliki ruang untuk bereproduksi secara masif.
Edukasi kepada masyarakat juga mengalami pergeseran paradigma. Warga diajarkan bahwa menjaga jarak dan memakai masker adalah penting, namun menutup rapat bak mandi dan mengubur barang bekas adalah hal yang sama krusialnya untuk kelangsungan hidup keluarga. Di Bengkulu, keterlibatan tokoh masyarakat dalam menyebarkan pemahaman mengenai jaga lingkungan terbukti efektif dalam menurunkan angka kesakitan. Kesadaran kolektif ini dibangun melalui pendekatan persuasif, di mana setiap rumah tangga didorong untuk memiliki satu juru pemantau jentik (Jumantik) dari anggota keluarga mereka sendiri.