Provinsi Bengkulu yang memiliki garis pantai panjang di pesisir barat Sumatera menghadapi ancaman serius berupa abrasi laut dan potensi tsunami. Hutan mangrove merupakan benteng alami yang paling efektif untuk melindungi daratan, namun proses rehabilitasinya sering kali terkendala oleh medan yang berlumpur dalam dan akses geografis yang berbahaya bagi manusia. Menanggapi tantangan ini, HAKLI Bengkulu meluncurkan sebuah terobosan teknologi lingkungan yang revolusioner. Mereka secara resmi gunakan drone yang telah dimodifikasi secara teknis untuk sebar benih mangrove pada titik-titik pesisir yang termasuk dalam kategori area sulit jangkau, demi mempercepat pemulihan ekosistem pesisir secara berkelanjutan.

Langkah inovatif ini berawal dari evaluasi efisiensi penanaman manual yang sering kali memakan waktu lama dan memiliki risiko keselamatan bagi para relawan lingkungan. Tim ahli dari HAKLI Bengkulu menyadari bahwa penggunaan teknologi nirkabel dapat menjadi solusi cerdas. Dengan keputusan untuk gunakan drone, proses pemetaan dan penanaman dapat dilakukan dari jarak jauh dengan akurasi yang lebih tinggi. Drone tersebut dilengkapi dengan mekanisme peluncur khusus yang mampu menembakkan kapsul benih (seed bombs) ke dalam lumpur sedalam beberapa sentimeter. Strategi sebar benih mangrove melalui udara ini terbukti mampu menjangkau wilayah rawa yang terisolasi, yang selama ini menjadi area sulit jangkau bagi petugas lapangan.

Secara teknis, benih yang digunakan telah dibungkus dengan nutrisi organik dan tanah liat untuk memastikan kelangsungan hidupnya saat menyentuh substrat. HAKLI Bengkulu melakukan simulasi penerbangan untuk memastikan bahwa pola persebaran benih merata dan sesuai dengan kepadatan ekosistem yang diinginkan. Ketika sekolah dan instansi lingkungan melihat kemudahan saat gunakan drone, banyak pihak mulai tertarik untuk berkolaborasi. Metode untuk sebar benih mangrove ini tidak hanya hemat waktu, tetapi juga meminimalisir kerusakan pada vegetasi yang sudah ada karena tidak ada injakan kaki manusia di area sulit jangkau. Hal ini menjaga integritas tanah rawa tetap stabil selama proses restorasi berlangsung.

Manfaat dari program ini sangat luas bagi kesehatan lingkungan masyarakat pesisir. Hutan mangrove yang lebat berfungsi sebagai filter alami untuk polutan laut dan tempat pemijahan ikan yang menjadi sumber ekonomi warga.

Kategori: Berita