Keamanan piring, sendok, gelas, dan peralatan dapur di tempat usaha kuliner menjadi kunci keberhasilan pencegahan penyakit diare dan keracunan makanan. Di samping audit sanitasi asrama pencegahan skabies dan cahaya, higiene jasa boga terus dipantau. Tim HAKLI Bengkulu menggelar uji usap alat makan (swab test) di berbagai restoran dan rumah makan untuk menguji tingkat sterilitas peralatan secara mikrobiologis.
Prosedur uji usap alat makan dilakukan dengan mengambil sampel dari permukaan piring, sendok, dan gelas menggunakan cutton bud steril yang dicelupkan ke dalam larutan pengencer. Sampel tersebut kemudian dimasukkan ke dalam media biakan untuk diuji jumlah total kuman (Angka Kuman Alat) di laboratorium. Alat makan yang higienis wajib memiliki kuman nol atau berada di bawah batas toleransi regulasi kesehatan.
Selain pengujian laboratorium, auditor HAKLI memeriksa pencucian alat makan yang diterapkan pengelola tempat usaha kuliner. Metode pencucian yang benar harus memenuhi empat tahap, yaitu pembersihan sisa makanan, pencucian dengan deterjen, pembilasan air bersih mengalir, dan desinfeksi dengan air panas atau larutan kaporit aman. Penggunaan lap pengering yang kotor sering menjadi sumber kontaminasi ulang.
Edukasi diberikan langsung kepada para penjamah makanan mengenai tata cara penanganan alat makan yang steril dan cara penyimpanannya dalam rak tertutup. Pemilik restoran diimbau untuk selalu memantau kebersihan staf dapur dan menyediakan air panas pembilas alat. Kesadaran higiene pencucian menjadi fokus pembinaan tenaga sanitarian.
Hasil dari uji usap ini menjadi dasar pertimbangan dalam penerbitan Sertifikat Laik Higiene Sanitasi bagi usaha jasa boga di Kota Bengkulu. Masyarakat umum dapat merasa lebih aman dan nyaman saat mengonsumsi makanan di tempat kuliner yang telah teruji sanitasinya. Kepercayaan publik terhadap kualitas kuliner daerah pun meningkat.
Uji usap alat makan oleh HAKLI Bengkulu memverifikasi komitmen organisasi dalam mengawal keamanan pangan di sektor pariwisata kuliner. Pengawasan berkala melindungi masyarakat dari bahaya penyakit menular berbasis makanan secara efektif.