Masalah ketersediaan air bersih di wilayah pesisir telah menjadi tantangan global yang semakin mendesak, dan Bengkulu tidak terkecuali dari fenomena ini. Sebagai provinsi yang berhadapan langsung dengan Samudra Hindia, garis pantai yang panjang di wilayah ini menyimpan potensi kerentanan lingkungan yang tinggi. Salah satu ancaman yang paling nyata namun sering kali tidak disadari prosesnya secara cepat adalah masuknya air asin ke dalam lapisan akuifer tawar. Fenomena Intrusi Air Laut ini bukan hanya masalah geologis, tetapi telah berkembang menjadi krisis kesehatan lingkungan yang memerlukan perhatian serius dari berbagai pihak terkait.
Himpunan Ahli Kesehatan Lingkungan Indonesia (HAKLI) di wilayah Bengkulu secara konsisten memantau perubahan kualitas air tanah di sepanjang pesisir. Secara alami, air tanah tawar memiliki tekanan yang lebih besar sehingga mampu menahan laju air laut agar tidak masuk ke daratan. Namun, seiring dengan meningkatnya populasi dan pembangunan gedung-gedung di area pantai, pengambilan air tanah secara berlebihan telah menciptakan kekosongan ruang di bawah tanah. Akibatnya, air laut masuk untuk mengisi kekosongan tersebut, mengubah air yang semula tawar menjadi payau bahkan asin, sehingga tidak lagi layak untuk dikonsumsi maupun digunakan untuk keperluan sanitasi harian.
Dampak dari hilangnya akses terhadap Air Bersih akibat kontaminasi garam ini sangat luas. Dari sisi kesehatan, konsumsi air dengan kadar salinitas tinggi dalam jangka panjang dapat memicu berbagai gangguan metabolisme, tekanan darah tinggi, hingga beban kerja ginjal yang berlebihan. Selain itu, secara higienis, air yang asin sulit digunakan untuk membersihkan diri karena tidak mampu menghasilkan busa yang efektif saat bersosialisasi dengan sabun, yang pada gilirannya dapat meningkatkan risiko penyakit kulit. Masyarakat di pesisir sering kali terpaksa mengeluarkan biaya tambahan yang cukup besar untuk membeli air galon atau air tangki demi memenuhi kebutuhan dasar mereka.
Para ahli kesehatan lingkungan di Bengkulu menekankan bahwa solusi untuk mengatasi masalah ini tidak bisa hanya bersifat jangka pendek. Diperlukan manajemen tata ruang yang ketat untuk mengontrol pengeboran sumur dalam di area yang rentan. Selain itu, konservasi air melalui pembuatan sumur resapan dan lubang biopori harus menjadi gerakan masif di lingkungan pemukiman. Dengan meresapkan kembali air hujan ke dalam tanah, kita dapat membantu memulihkan tekanan hidrolik air tanah tawar untuk membendung laju air laut. Tanpa adanya upaya pemulihan cadangan air tanah, krisis ini akan semakin meluas ke wilayah daratan yang lebih jauh.