Pertanyaan mengenai apakah kasus diare turun di wilayah Bengkulu kini mulai mendapatkan jawaban yang optimis. Berdasarkan data evaluasi kesehatan lingkungan terbaru, terjadi tren penurunan angka kunjungan pasien diare di puskesmas-puskesmas yang menjadi fokus intervensi sanitasi. Keberhasilan ini tidak terjadi secara instan, melainkan hasil dari kerja keras yang konsisten dalam memperbaiki infrastruktur kesehatan di tingkat rumah tangga. Penurunan kasus ini menjadi indikator kuat bahwa masyarakat mulai menyadari kaitan erat antara pembuangan kotoran yang benar dengan kesehatan pencernaan keluarga mereka. Lingkungan yang bebas dari kontaminasi tinja secara otomatis memutus rantai penularan kuman dan bakteri penyebab infeksi usus.

Salah satu rahasia di balik kesuksesan ini adalah implementasi strategi Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) yang dilakukan secara persuasif dan berkelanjutan. Himpunan Ahli Kesehatan Lingkungan Indonesia (HAKLI) di Bengkulu melakukan pendekatan yang menyentuh aspek psikologis dan sosial warga. Mereka tidak hanya memberikan bantuan fisik, tetapi juga melakukan “pemicuan” untuk membangkitkan rasa malu dan rasa jijik terhadap praktik buang air besar di sungai atau kebun. Perubahan pola pikir ini jauh lebih efektif dibandingkan sekadar memberikan bantuan materi, karena kesadaran yang muncul dari dalam diri akan menjamin keberlanjutan penggunaan fasilitas sanitasi dalam jangka panjang.

Pelaksanaan kampanye jamban sehat menjadi program unggulan yang menyasar wilayah-wilayah dengan tingkat risiko sanitasi tinggi, seperti daerah pesisir dan pinggiran sungai. Jamban yang sehat bukan hanya soal ketersediaan bangunan fisik, tetapi harus memenuhi syarat teknis kesehatan, seperti memiliki leher angsa, tersedia air bersih yang cukup, serta yang paling utama adalah memiliki tangki septik yang kedap air dan tidak mencemari sumber air tanah. Di Bengkulu, tenaga sanitarian memberikan panduan teknis pembangunan jamban murah namun berkualitas kepada masyarakat desa. Edukasi mengenai pentingnya jarak minimal antara lubang penampungan tinja dengan sumur gali minimal sepuluh meter terus ditekankan agar air minum warga tetap aman dari bakteri koliform.

Keterlibatan aktif para anggota HAKLI Bengkulu dalam melakukan pendampingan di lapangan memastikan bahwa setiap jamban yang dibangun benar-benar digunakan dan dipelihara dengan baik. Para ahli kesehatan lingkungan ini bekerja sama dengan kader desa untuk melakukan monitoring pasca-pembangunan. Mereka memastikan tidak ada lagi warga yang kembali ke kebiasaan lama karena alasan teknis, seperti kerusakan saluran atau keterbatasan air. Dengan adanya pendampingan ini, desa-desa di Bengkulu satu per satu mulai meraih status ODF (Open Defecation Free) atau Desa Bebas Buang Air Besar Sembarangan, yang merupakan prestasi besar dalam bidang kesehatan lingkungan daerah.

Kategori: Berita