Isu sampah kerap kali dianggap sebagai masalah yang tak terpecahkan di perkotaan maupun pedesaan. Namun, kisah Komunitas Hijau Lestari di Kelurahan Sumber Rejo membuktikan bahwa dengan semangat gotong royong dan manajemen yang tepat, impian untuk menjadi kawasan Bebas Sampah bukanlah hal yang mustahil. Transformasi ini berawal dari inisiatif warga yang sudah muak dengan tumpukan limbah di saluran air dan bahu jalan, yang kemudian menjadi landasan bagi keberhasilan mereka mencapai status Bebas Sampah yang berkelanjutan. Kunci utamanya adalah keterlibatan kolektif dari setiap rumah tangga.

Inisiatif Komunitas Hijau Lestari dimulai pada bulan Januari 2024. Langkah pertama yang dilakukan adalah edukasi masif mengenai pemilahan sampah. Setiap akhir pekan, tepatnya hari Sabtu pukul 15.00, diadakan workshop pemilahan di Balai Warga RT 05, yang difasilitasi oleh Ibu Ratna Dewi, seorang kader lingkungan setempat. Warga diajarkan memilah sampah menjadi tiga kategori: organik, anorganik (daur ulang), dan residu. Untuk memperkuat disiplin, Komunitas Hijau Lestari bekerja sama dengan pihak Kelurahan dan petugas kebersihan yang dikoordinasi oleh Bapak Sarno. Mereka menetapkan jadwal pengambilan sampah yang berbeda, di mana sampah anorganik dijemput setiap hari Rabu untuk dikirim ke Bank Sampah terdekat.

Salah satu inovasi terbesar yang diterapkan untuk mencapai status Bebas Sampah adalah program pengolahan limbah organik di tingkat rumah tangga. Mengingat sebagian besar sampah rumah tangga adalah organik, komunitas ini mendorong penggunaan komposter Takakura atau biopori. Pada tanggal 14 April 2024, didukung oleh donasi dari Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Lingkungan Berseri, 150 unit komposter didistribusikan kepada warga. Data monitoring yang dikumpulkan oleh tim monitoring komunitas menunjukkan bahwa dengan komposter, volume sampah yang harus dibuang ke TPA dapat ditekan hingga 60%, yang merupakan sebuah pencapaian signifikan.

Keberlanjutan program ini tidak lepas dari peran aktif Bank Sampah “Rejeki Alam,” yang didirikan secara swadaya oleh komunitas. Bank Sampah ini tidak hanya menerima sampah anorganik yang sudah dipilah, tetapi juga mencatat “tabungan” sampah warga dalam bentuk rupiah. Ini memberikan insentif ekonomi yang nyata. Dalam laporan keuangan triwulan kedua tahun 2025, tercatat total saldo tabungan warga mencapai Rp 17.500.000, yang membuktikan bahwa sampah memiliki nilai ekonomi. Dengan adanya nilai tukar ini, warga menjadi termotivasi untuk menjaga kebersihan dan memastikan pemilahan dilakukan dengan benar.

Kisah sukses Komunitas Hijau Lestari ini adalah contoh nyata bahwa gotong royong dapat mengatasi tantangan lingkungan. Kesuksesan mereka dalam menjadi komunitas Bebas Sampah didasarkan pada tiga pilar: edukasi yang konsisten, pengolahan limbah organik di sumbernya, dan insentif ekonomi melalui Bank Sampah. Upaya ini mengubah persepsi warga, dari yang melihat sampah sebagai masalah, menjadi melihatnya sebagai tanggung jawab bersama dan potensi ekonomi.