Perubahan iklim global bukan lagi sekadar prediksi ilmiah untuk masa depan, melainkan realitas yang sedang dihadapi oleh sektor-sektor vital di Indonesia, terutama pertanian. Di Provinsi Bengkulu, para petani kini harus berhadapan dengan anomali cuaca yang sering kali tidak terduga, mulai dari kemarau yang berkepanjangan hingga curah hujan dengan intensitas sangat tinggi yang memicu banjir bandang. Kondisi ini menuntut adanya langkah Mitigasi Bencana Iklim yang terstruktur agar ketahanan pangan daerah tetap terjaga dan kesejahteraan petani tidak terpuruk akibat gagal panen yang berulang.
Ketidakpastian musim yang terjadi akhir-akhir ini telah mengubah kalender tanam tradisional yang selama ini menjadi pegangan para petani. Oleh karena itu, diperlukan intervensi pengetahuan untuk membantu masyarakat agraris beradaptasi dengan kondisi Cuaca Ekstrem. Strategi ini mencakup pengenalan varietas tanaman yang lebih tahan terhadap kekeringan atau genangan air, serta pemanfaatan teknologi prakiraan cuaca yang lebih akurat agar petani dapat mengambil keputusan yang tepat sebelum memulai masa tanam.
Dalam upaya memperkuat kapasitas adaptasi ini, peran HAKLI (Himpunan Ahli Kesehatan Lingkungan Indonesia) di wilayah Bengkulu menjadi sangat krusial. Para ahli kesehatan lingkungan memberikan edukasi mengenai kaitan antara kesehatan tanah, manajemen air, dan perubahan iklim. Mereka menekankan bahwa tanah yang sehat dan sistem irigasi yang tertata dengan baik adalah kunci dalam menghadapi guncangan lingkungan. Selain itu, organisasi ini juga menyoroti potensi munculnya hama dan penyakit tanaman baru yang dipicu oleh perubahan kelembapan dan suhu udara yang tidak stabil.
Program edukasi yang dijalankan difokuskan pada pengenalan teknik pertanian konservasi. Petani diajak untuk kembali menerapkan penggunaan pupuk organik guna memperbaiki struktur tanah agar memiliki daya serap air yang lebih baik. Dalam skenario Mitigasi Bencana Iklim, tanah yang kaya akan bahan organik mampu menyimpan cadangan air lebih lama saat kemarau dan mengurangi risiko erosi saat hujan lebat. Hal ini merupakan bentuk perlindungan kesehatan lingkungan yang berdampak langsung pada keberlanjutan ekonomi pedesaan di Bengkulu.
Selain aspek teknis pertanian, edukasi dari HAKLI juga menyentuh aspek kesehatan masyarakat petani. Perubahan pola cuaca yang tidak menentu sering kali diikuti dengan peningkatan risiko penyakit berbasis lingkungan, seperti penyakit kulit akibat genangan air atau gangguan pernapasan akibat debu saat kekeringan panjang. Dengan memberikan pemahaman yang komprehensif, petani diharapkan dapat melindungi diri mereka sendiri dan keluarga sambil tetap mengelola lahan pertanian mereka dengan cara yang lebih adaptif terhadap tantangan zaman.