Kondisi darurat bencana sering kali memicu krisis sanitasi di lokasi penampungan warga, sehingga pembangunan penyediaan jamban darurat yang layak harus segera direalisasikan pada hari pertama tanggap darurat. Petugas pemukiman harus memilih lokasi saniter yang berjarak minimal tiga puluh meter dari sumber air minum dan penampungan dapur umum. Pemilihan posisi yang tepat ini sangat penting untuk mencegah resiko penyerapan limbah kotoran manusia ke dalam sumber air konsumsi pengungsi.
Model jamban cemplung berventilasi atau toilet portabel menjadi pilihan tercepat untuk dibangun dalam situasi krisis dengan ketersediaan material terbatas. Petugas membuat lubang penampungan dengan kedalaman cukup serta menutup bagian atas menggunakan papan kayu tebal yang kokoh dan aman. Pemasangan dinding penutup dari terpal memberikan privasi dan rasa nyaman bagi para pengungsi saat menggunakannya. Konstruksi yang sederhana namun memenuhi syarat kesehatan ini efektif mencegah pembuangan kotoran secara sembarangan di sekitar tenda.
Sanitasi lingkungan pengungsian harus didukung dengan penyediaan sarana cuci tangan pakai sabun di dekat pintu keluar area toilet. Pengelola kamp wajib memastikan ketersediaan air bersih dan sabun cair secara terus menerus agar pengungsi terbiasa menjaga kebersihan tangan. Petugas kesehatan lingkungan secara rutin melakukan penyemprotan disinfektan pada dudukan toilet guna mematikan kuman penyakit menular. Kebersihan fasilitas sanitasi bersama ini menjadi kunci utama penekanan risiko pemicu wabah diare di pengungsian.
Edukasi mengenai penggunaan dan pemeliharaan fasilitas sanitasi harus disampaikan kepada seluruh warga terdampak bencana melalui ketua kelompok tenda. Pengungsi diajak untuk membentuk tim piket kebersihan demi menjaga kerapian dan kenyamanan sarana buang air bersama. Keberhasilan program penyediaan jamban darurat sangat bergantung pada tingkat kepedulian warga dalam menjaga kebersihan lingkungan penampungan. Kerjasama yang baik antar pengungsi mencegah penumpukan kotoran yang berpotensi menarik lalat dan tikus penular penyakit.
Pemerintah daerah bersama lembaga bantuan kemanusiaan terus memantau rasio jumlah toilet terhadap jumlah total warga yang berada di area pengungsian. Penambahan unit jamban baru harus segera dilakukan jika jumlah pengungsi terus bertambah seiring masa tanggap darurat yang diperpanjang. Pelaksanaan penyediaan jamban secara cepat, tepat, dan terencana menyelamatkan jiwa dari ancaman penyakit krisis sanitasi pascabencana. Pengelolaan fasilitas MCK yang memadai menciptakan lingkungan pengungsian yang lebih manusiawi dan aman.