Industri kreatif di bidang perawatan diri, khususnya pangkas rambut dan barbershop, tengah mengalami pertumbuhan pesat di Kota Bengkulu. Namun, di balik tren gaya hidup ini, terdapat tantangan lingkungan yang sering kali luput dari perhatian publik, yaitu pengelolaan sisa produksi berupa limbah padat organik. Melalui inisiatif Pelatihan HAKLI Bengkulu, para pelaku usaha kini mulai diarahkan untuk memahami bahwa sisa potongan rambut bukan sekadar sampah biasa, melainkan materi yang memerlukan penanganan khusus agar tidak mencemari lingkungan perkotaan.
Secara teknis, rambut manusia mengandung protein keratin yang tinggi dan memerlukan waktu cukup lama untuk terurai secara alami jika hanya dibuang begitu saja ke tempat pembuangan akhir (TPA). Dalam volume besar, tumpukan limbah ini dapat menyumbat saluran drainase dan menjadi sarang bagi berbagai mikroorganisme jika bercampur dengan limbah domestik lainnya. Oleh karena itu, tenaga sanitarian menekankan pentingnya pemisahan wadah khusus untuk limbah potongan rambut di setiap gerai barbershop. Langkah awal ini sangat krusial dalam rantai sanitasi lingkungan kerja yang sehat.
Salah satu fokus utama dalam pelatihan ini adalah mengedukasi pemilik usaha mengenai potensi bahaya kesehatan jika limbah ini tidak dikelola dengan benar. Potongan rambut yang sangat halus dapat terbang terbawa angin dan terhirup oleh pelanggan maupun perawat rambut (barber), yang dalam jangka panjang berisiko menyebabkan iritasi saluran pernapasan. HAKLI memberikan panduan mengenai penggunaan sistem penyedot debu (vacuum) yang efektif serta pembersihan area kerja secara kontinu menggunakan teknik basah agar debu rambut tidak beterbangan di dalam ruangan barbershop.
Selain aspek risiko, pelatihan ini juga membuka wawasan mengenai nilai ekonomis dan ekologis dari pemanfaatan limbah organik ini. Di beberapa negara maju, sisa rambut digunakan sebagai bahan pembuat kompos karena kandungan nitrogennya yang tinggi, atau bahkan diolah menjadi alat penyerap tumpahan minyak di laut. Para sanitarian di Bengkulu mendorong para pengusaha untuk mulai berpikir inovatif dalam menyalurkan limbah mereka ke pihak ketiga yang mampu mengolahnya menjadi produk bermanfaat, sehingga prinsip ekonomi sirkular dapat terwujud di sektor jasa kecantikan.