Provinsi Bengkulu merupakan wilayah yang memiliki kerentanan tinggi terhadap bencana alam, terutama gempa bumi dan banjir bandang. Di tengah situasi darurat, sering kali fokus utama hanya tertuju pada evakuasi korban hidup, sementara masalah lingkungan yang muncul setelahnya kerap terabaikan. Himpunan Ahli Kesehatan Lingkungan Indonesia (HAKLI) wilayah Bengkulu kini menaruh perhatian serius pada aspek Sanitasi Pasca Bencana. Salah satu tantangan terberat yang harus dihadapi oleh tim kesehatan lingkungan di lapangan adalah melakukan kontrol ketat terhadap risiko penyakit menular yang bersumber dari kerusakan infrastruktur sanitasi serta penumpukan material berbahaya.

Masalah utama yang muncul setelah bencana besar adalah keberadaan bangkai hewan ternak dan hewan liar yang tidak tertangani dengan cepat. Manajemen Bangkai yang buruk dapat menjadi pemicu utama penyebaran penyakit zoonosis dan pencemaran sumber air tawar. Para ahli dari HAKLI di Bengkulu menerapkan protokol evakuasi dan pemusnahan bangkai yang sesuai dengan standar kesehatan, yaitu melalui penguburan massal dengan lapisan kapur untuk mempercepat dekomposisi dan membunuh patogen merugikan. Langkah cepat ini krusial untuk mencegah terjadinya wabah penyakit seperti kolera atau leptospirosis yang sering kali muncul sebagai bencana gelombang kedua setelah bencana alam terjadi.

Selain masalah biologis, penanganan Sampah sisa bencana yang berupa puing bangunan, lumpur, dan limbah domestik dari pengungsian juga menjadi prioritas. HAKLI melakukan koordinasi untuk memisahkan limbah medis dari posko kesehatan dengan sampah umum guna mencegah infeksi silang. Fokus dari kegiatan ini adalah menciptakan lingkungan pengungsian yang layak huni meskipun dalam kondisi serba terbatas. Dengan memastikan akses air bersih yang teruji dan pengelolaan limbah yang sistematis, HAKLI membantu meminimalisir penderitaan para penyintas bencana dari risiko penyakit lingkungan yang mematikan.

Dalam operasionalnya di wilayah Bengkulu, para tenaga kesehatan lingkungan juga melakukan pemantauan kualitas air sumur warga yang tercemar lumpur atau intrusi air laut. Mereka memberikan bantuan teknis berupa kaporitisasi dan penyediaan filter air darurat. Keterlibatan HAKLI dalam fase tanggap darurat hingga pemulihan memberikan kepastian bahwa aspek Pasca Bencana tidak akan meninggalkan jejak kerusakan kesehatan jangka panjang bagi masyarakat. Edukasi mengenai perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) di barak pengungsian terus digaungkan agar para pengungsi dapat menjaga imunitas tubuh mereka di tengah kondisi yang tidak menentu.

Kategori: Berita