Di tengah perbincangan global tentang perubahan iklim dan sampah plastik, muncul ancaman yang bekerja secara diam-diam namun merusak, dikenal sebagai Silent Killer: mikroplastik. Silent Killer ini adalah fragmen plastik yang ukurannya kurang dari 5 milimeter, seringkali tidak terlihat oleh mata telanjang, namun telah menyusup ke setiap sudut planet, dari kedalaman laut terdalam hingga udara yang kita hirup. Keberadaannya di lautan, tanah, dan yang paling mengkhawatirkan, di sumber air minum kita, menjadikan mikroplastik sebagai Silent Killer yang harus segera ditangani.

Mikroplastik berasal dari dua sumber utama: primer dan sekunder. Mikroplastik primer adalah butiran plastik kecil yang sengaja ditambahkan pada produk, seperti microbeads dalam scrub wajah dan pasta gigi. Mikroplastik sekunder jauh lebih banyak, dihasilkan dari fragmentasi plastik besar (seperti botol, kantong kresek, dan jaring ikan) yang terurai akibat paparan sinar matahari dan ombak. Di lautan, fragmen-fragmen ini bukan hanya mencemari air, tetapi juga menarik dan menyerap polutan kimia berbahaya lainnya, seperti pestisida dan Bifenil Poliklorinasi (PCB), bertindak sebagai “bom racun” mini.

Ancaman terbesar mikroplastik adalah kemampuannya memasuki rantai makanan. Ikan, kerang, dan hewan laut lainnya salah mengira fragmen ini sebagai makanan. Ketika kita mengonsumsi hasil laut tersebut, kita juga mengonsumsi mikroplastik beserta bahan kimia berbahaya yang menempel padanya. Penelitian yang dilakukan oleh Badan Pengawasan Makanan dan Obat (BPOM) pada hari Rabu, 18 Juni 2025, menemukan bahwa $70\%$ sampel ikan yang dijual di pasar tradisional di beberapa kota pesisir teridentifikasi mengandung partikel mikroplastik di saluran pencernaan mereka.

Selain melalui makanan laut, mikroplastik kini terdeteksi dalam air minum kemasan, air keran, bahkan di udara perkotaan. Meskipun Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) masih melakukan penelitian lebih lanjut mengenai dampak jangka panjang mikroplastik pada kesehatan manusia, potensi risiko dari paparan zat kimia terkait plastik sangat mengkhawatirkan. Solusi untuk mengatasi Silent Killer ini harus dimulai dari hulu, yaitu dengan menghentikan total penggunaan plastik sekali pakai, serta mengembangkan sistem filter air canggih untuk meminimalkan paparan di tingkat konsumen.