Akses terhadap fasilitas sanitasi yang layak merupakan hak dasar setiap warga negara, namun realitas di lapangan sering kali menyajikan potret yang kontras, terutama di kawasan tepi laut. Di Provinsi Bengkulu, yang memiliki garis pantai panjang menghadap Samudra Hindia, isu buang air besar sembarangan (BABS) masih menjadi persoalan klasik yang sulit dituntaskan. Memasuki tahun 2026, Tantangan dalam mewujudkan program jamban sehat menjadi fokus utama perjuangan Himpunan Ahli Kesehatan Lingkungan Indonesia (HAKLI) wilayah Bengkulu. Masyarakat pesisir menghadapi kendala ganda, yakni keterbatasan ekonomi serta kondisi geografis yang tidak mendukung pembangunan sistem sanitasi konvensional.

Perjuangan para sanitarian di pesisir Bengkulu dimulai dengan mengubah pola pikir masyarakat yang telah terbiasa menggunakan “jamban helikopter” atau langsung membuang hajat ke laut. Bagi warga pesisir, laut sering kali dianggap sebagai tempat pembuangan tak terbatas yang mampu membersihkan dirinya sendiri secara alami. Namun, persepsi ini berakibat fatal pada kesehatan lingkungan lokal, di mana angka kejadian diare dan penyakit kulit pada anak-anak di pemukiman nelayan tetap tinggi. HAKLI Bengkulu melakukan pendekatan persuasif melalui pemicuan Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) untuk menumbuhkan rasa malu dan kesadaran akan bahaya kontaminasi tinja terhadap sumber air dan ekosistem laut.

Secara teknis, pembangunan jamban sehat di wilayah pesisir Bengkulu menghadapi hambatan berupa tingginya muka air tanah dan karakteristik tanah yang berpasir. Tangki septik konvensional dari beton sering kali mengalami kebocoran atau justru terendam air saat pasang, yang berisiko mencemari akuifer air bersih. Menghadapi tantangan ini, HAKLI mendorong penggunaan teknologi sanitasi tepat guna, seperti tangki septik kedap air berbahan fiberglass atau sistem pengolahan limbah individu yang mampu beradaptasi dengan lingkungan payau. Para ahli kesehatan lingkungan ini bekerja keras memberikan bimbingan teknis kepada tukang bangunan lokal agar standar konstruksi jamban sehat benar-benar terpenuhi dan tahan terhadap korosi air laut.

Selain masalah teknis, faktor ekonomi menjadi penghalang besar bagi nelayan tradisional di Bengkulu untuk membangun jamban sehat secara mandiri. Biaya pembuatan tangki septik yang standar sering kali dianggap sebagai beban mewah di tengah fluktuasi hasil tangkapan ikan. Perjuangan HAKLI di sini mencakup peran sebagai fasilitator antara masyarakat dengan program CSR perusahaan, dana desa, maupun bantuan stimulan dari pemerintah daerah. Mereka memastikan bahwa bantuan yang turun tepat sasaran dan disertai dengan pendampingan pemeliharaan, sehingga fasilitas yang dibangun tidak mangkrak dan tetap fungsional dalam jangka panjang.

Kategori: Berita