Pengelolaan sumber daya air di wilayah pesisir dan daratan Bengkulu menghadapi tantangan yang dinamis seiring dengan meningkatnya aktivitas domestik dan industri. Kejernihan air bukan sekadar masalah estetika, melainkan indikator vital bagi kesehatan ekosistem perairan. Air yang keruh akibat sedimentasi atau beban polutan organik dapat menghambat penetrasi cahaya matahari, yang pada gilirannya mengganggu proses fotosintesis tumbuhan air dan keseimbangan rantai makanan. Untuk mencapai standar transparansi air terbuka yang ideal, diperlukan metode pengukuran yang praktis namun memiliki basis ilmiah yang kuat untuk memantau sejauh mana cahaya dapat menembus kedalaman air di danau, sungai, maupun muara yang ada di wilayah tersebut.
Dalam menjalankan mandat pengawasan kualitas lingkungan, HAKLI Bengkulu terus mengoptimalkan berbagai instrumen lapangan untuk mendapatkan data yang akurat. Salah satu alat klasik yang tetap menjadi andalan karena efektivitas dan kemudahannya adalah penggunaan cakram Secchi atau Secchi Disk. Alat ini berupa piringan bundar dengan pola warna hitam dan putih yang kontras, yang diturunkan ke dalam air hingga batas penglihatan mata manusia tidak lagi mampu membedakan polanya. Di Bengkulu, metode ini menjadi standar prosedur bagi para sanitarian saat melakukan survei cepat pada badan air yang luas, guna menentukan tingkat kekeruhan dan produktivitas primer perairan secara langsung di lokasi.
Dalam setiap kegiatan pengawasan HAKLI Bengkulu, data kedalaman cakram Secchi dicatat sebagai bagian dari profil kesehatan lingkungan wilayah. Pengukuran ini sangat krusial di area-area yang berdekatan dengan pertambangan atau perkebunan besar, di mana risiko run-off sedimen ke sungai sangat tinggi. Dengan membandingkan data transparansi dari waktu ke waktu, para ahli kesehatan lingkungan dapat mendeteksi adanya tren penurunan kualitas air akibat aktivitas manusia. Kedalaman cakram yang semakin dangkal menunjukkan peningkatan materi tersuspensi atau ledakan populasi alga (algal bloom) yang sering kali dipicu oleh rembesan limbah yang mengandung fosfat dan nitrogen tinggi.
Penerapan metode ini juga memberikan kemudahan bagi sanitarian untuk melakukan edukasi kepada masyarakat lokal. Visualisasi alat yang sederhana memudahkan warga untuk memahami kondisi air di lingkungan mereka. Saat cakram Secchi menghilang pada kedalaman yang sangat dangkal, hal itu menjadi bukti fisik yang nyata mengenai tingkat pencemaran yang sedang terjadi. HAKLI Bengkulu memanfaatkan momen ini untuk mengajak masyarakat menjaga kebersihan sungai dan tidak membuang limbah rumah tangga langsung ke badan air. Pendekatan yang transparan dan berbasis bukti lapangan ini terbukti lebih efektif dalam membangun kesadaran lingkungan dibandingkan sekadar memberikan pengumuman bersifat teoretis.