Memasuki tahun Zoonosis 2026, tantangan kesehatan global semakin kompleks dengan munculnya berbagai ancaman penyakit yang berpindah dari hewan ke manusia. Bengkulu, dengan kekayaan hutan tropisnya yang luas dan interaksi masyarakat yang cukup intens dengan area hutan, menjadi salah satu wilayah yang sangat fokus dalam melakukan mitigasi risiko ini. Himpunan Ahli Kesehatan Lingkungan Indonesia (Hakli) Bengkulu telah menyusun strategi komprehensif untuk mencegah terjadinya lonjakan kasus penyakit yang bersumber dari satwa liar, mengingat perubahan iklim dan perambahan hutan seringkali memaksa hewan keluar dari habitat aslinya dan mendekat ke pemukiman penduduk.

Penyakit zoonosis bukan sekadar masalah kesehatan hewan, melainkan masalah keamanan kesehatan lingkungan yang memerlukan pendekatan multidisiplin. Beberapa patogen yang dibawa oleh kelelawar, kera, hingga tikus hutan memiliki potensi untuk memicu wabah jika tidak diantisipasi sejak dini. Hakli Bengkulu menekankan bahwa langkah utama adalah memperkuat pengawasan pada titik-titik persinggungan antara manusia dan hewan liar. Hal ini mencakup edukasi kepada warga yang tinggal di pinggiran hutan agar tidak memelihara satwa liar tanpa protokol kesehatan yang ketat dan segera melaporkan jika ditemukan kasus kematian hewan yang mendadak di sekitar mereka.

Dalam upaya cegah penyakit yang efektif, Hakli juga mendorong konsep “One Health”, di mana kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan dianggap sebagai satu kesatuan yang saling terkait. Para ahli lingkungan di Bengkulu melakukan pemantauan terhadap kualitas sumber air di sekitar hutan yang sering digunakan bersama oleh hewan dan manusia. Kontaminasi kotoran hewan pada sumber air dapat menjadi media penularan penyakit seperti leptospirosis atau parasit berbahaya lainnya. Dengan menjaga sanitasi air dan lingkungan pemukiman agar tidak menarik minat hewan liar untuk mencari makan di area penduduk, risiko transmisi dapat diminimalisir secara signifikan.

Selain itu, pemberdayaan masyarakat lokal menjadi pilar penting dalam program Hakli Bengkulu. Melalui sosialisasi yang intens, warga diajarkan cara mengelola sampah organik rumah tangga agar tidak mengundang satwa pembohong ke lingkungan mereka. Sanitasi lingkungan yang buruk di area perbatasan hutan seringkali menjadi pemicu utama interaksi yang tidak diinginkan antara spesies. Ahli kesehatan lingkungan juga memberikan pelatihan mengenai penggunaan alat pelindung diri bagi para petani atau pekebun yang beraktivitas di dalam hutan, guna mencegah paparan langsung melalui luka terbuka atau saluran pernapasan saat berada di habitat satwa.

Kategori: Berita